logo

Kontak Line (0401) 3008846

EKSTRIMNYA CUACA KOTAKU


Tentu masih segar dalam ingatan kita bersama saat peristiwa hujan lebat disertai angin kencang dengan intensitas cukup besar yang mengakibatkan tumbangnya pohon-pohon besar yang sudah berusia puluhan tahun disepanjang jalan poros kota Kendari. Dalam sepanjang sejarahnya peristiwa fenomena cuaca ekstrim tersebut baru pertama kalinya terjadi di kota kendari selain banjir meluas dan merata yang terjadi hampir disebagian tempat di wilayah perkotaan kendari sekitar tahun 2013 yang lalu. Fenomena cuaca ekstrim yang hampir menyita seluruh perhatian publik dalam dan luar kota kendari mengingatkan kita pada syair lagu tentang bencana alam yang mungkin bagi kita sebagai manusia biasa harus dapat selalu melakukan introspeksi diri terhadap semua kelakuan yang secara tidak langsung berdampak pada kemarahan alam.  Apapun itu penyebabnya secara tanggap kita harus mampu membaca segala pertanda alam yang sudah dikirimkan oleh yang maha kuasa sebagai sistem alami peringatan secara dini terhadap bahaya kemarahan alam yang tidak sedikit pastinya akan mengakibatkan kerugian materi dan bahkan sampai harus merenggut banyak korban jiwa. Tentu hal tersebut sangat disayangkan mengingat tugas dan tanggung jawab pemerintah setempat dalam kapasitas untuk melindungi kepentingan hajat hidup masyarakatnya termasuk upaya pencegahan dan penanggulangan dini bahaya bencana alam. Mungkin tidak disadari cuaca ekstrim yang sekarang ini melanda wilayah Sulawesi Tenggara khususnya kota kendari yang ditandai dengan panjangnya waktu musim penghujan. Setiap harinya tentu masyarakat kota kendari sudah dapat melakukan prediksi munculnya awan cumulonimbus yang biasa kita lihat dan kenal sebagai awan mendung dan gelap yang tiba-tiba menaungi kota kendari selepas siang hari yang terik ataupun terkadang pada pagi hari hingga sore hari dan tidak lamapun hujan akan terus mengguyur sepanjang hari yang disertai angin dan kilatan petir serta bunyi guntur terus menerus. Awan cumulonimbus merupakan awan konvektif penghasil hujan lebat yang disertai angin kencang. Penyebaran awan konvektif yang menyelimuti kawasan Sulawesi Tenggara sepanjang bulan Maret ini tidak lepas dari fenomena peningkatan secara ekstrim suhu muka laut yang memanas sebagai bagian akibat dari fenomena dinamika atmosfer secara global, kelembaban udara yang relative berkisar antara 60%-80%, serta pemicu yang paling utama berdasarkan analisa pola streamline yaitu pola pergerakan angin yang membawa massa udara dari samudra pasifik yang melewati wilayah Sulawesi Utara dan terjadi pola shareline di perairan sebelah barat Sulawesi sehingga terjadi pola konvergensi tepat diatas wilayah kendari (bagian tenggara Sulawesi), yang dapat berperan dalam pembentukan awan-awan konvektif penghasil hujan lebat disertai angin kencang. Analisa tersebut didukung dengan penampakan citra satelit yang menunjukkan pengumpulan awan cumulonimbus telah terjadi sejak tanggal 01 Maret 2017, fenomena citra satelit tersebut menunjukkan terjadinya proses penyebaran awan-awan konvektif di wilayah Kendari yang dapat di amati setiap harinya kota kendari tidak terlepas dari guyuran hujan. Seluruh faktor penyebab tersebut dapat sedikit memberi masukan bagi masyarakat di wilayah pusat penyebaran awan konvektif khususnya masyarakat kota kendari untuk selalu berjaga-jaga dan mengantisipasi kemungkinan bahaya terbesar yang dapat diakibatkan peristiwa hujan terus menerus tersebut. Pengaturan saluran air termasuk pembersihan gorong-gorong selokan, longsornya tanah perbukitan ataupun di pegunungan, sampai pada kemungkinan terjadinya kembali peristiwa tumbangnya pohon yang sudah berusia puluhan tahun disepanjang ruas jalan kota yang telah diamati bersama akibat yang ditimbulkan hingga pada kejadian hancurnya rumah penduduk, macetnya lalu lintas pada ruas jalan, dan genangan air yang tinggi disepanjang poros jalan utama di kota kendari. Mungkin uraian akibat peristiwa hujan lebat disertai angin kencang yang telah melanda daerah kita dan selalu menjadi momok bagi masyarakat kota yang pernah mendapatkan gelar Adipura tersebut mampu secepatnya dibaca untuk segera melakukan upaya berbenah diri dalam pengaturan kembali tata kota dan masyarakat sehingga sistem penanggulangan secara dini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah setempat tapi sudah harus menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat perkotaan melihat akibat yang dapat ditimbulkan dari cuaca ekstrim yang saat ini melanda wilayah Sulawesi Tenggara khususnya kota kendari akan langsung berdampak pada kerugian secara pribadi dan memungkinkan dalam nominal yang cukup besar hingga merenggut korban jiwa.

Penulis                :  CINDY PUSPITAFURI  S.Si

Jabatan               :  Staff Unit Pelaksana Teknis Badan Pusat Peraga IPTEK

Instansi               :  Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sulawesi Tenggara

2017-03-27
welcome medix