logo

Kontak Line (0401) 3008846

Knowledge Management - Strategi Penguatan Eksisten


“Perusahaan yang hebat tidak percaya pada kehebatan, tetapi percaya pada perbaikan dan perubahan yang berkesinambungan”(Tom Peters). Kutipan kata-kata bijak yang diambil dari seorang pakar management berbagai perusahaan top dunia itu mungkin terdengar tidak asing lagi bagi para pengembang bisnis dan usaha. Mengkaji kutipan kata-kata bijak tersebut sedikit dapat memberi masukan yang cukup berharga mengenai strategi kerja bagi para pegawai negeri maupun karyawan swasta, disamping dapat pula menjadi bahan rujukan bagi para pemimpin lembaga ataupun perusahaan dalam pengambilan kebijakan strategi pencapaian kinerja lembaga/perusahaan kedepan. Kehebatan sumber daya manusia ataupun sarana dan prasarana pendukungnya tidak cukup menjadikan suatu lembaga atau perusahaan dapat maju dan bertahan dalam waktu yang lama. Kehebatan tersebut tidak akan berarti apapun jika tidak dibarengi dengan strategi management yang mumpuni untuk dapat mengarahkan dan mengatur serta mengelola faktor kehebatan itu secara maksimal. Dalam memahami dari sistem yang mampu diciptakan untuk dapat mengarahkan, mengatur dan mengelola faktor kehebatan tersebut, perbaikan dan perubahan yang berkesinambungan menjadi faktor pendukung kuat untuk memberikan pengaruh dalam menimbulkan suatu rangkaian kegiatan yang digunakan oleh organisasi lembaga atau perusahaan untuk mengidentifikasi, menciptakan, menjelaskan dan mendistribusikan pengetahuan yang nantinya akan digunakan kembali, diketahui dan dipelajari dalam sebuah organisasi lembaga atau perusahaan, yang biasa dikenal dengan istilah knowledge management. Penerapan konsep knowledge management meliputi keseluruhan dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) serta sarana dan prasarana yang mendukung terutama faktor penunjang Teknologi Informasi (IT) untuk pencapaian mewujudkan kinerja organisasi lembaga dan perusahaan yang semakin baik setiap tahunnya. Sebagaimana kita ketahui bersama saat ini negara Indonesia sudah berada dalam tahap awal penerapan sistem pasar bebas ASEAN (MEA) yang pada awalnya ditandai dengan disetujuinya MOU kerjasama antar negara dalam berbagai aspek kegiatan perekonomian. Salah satunya melihat yang telah marak terjadi belakangan ini fenomena masuknya tenaga kerja asing cina tanpa melalui proses seleksi yang ketat mengenai kompetensi pekerja asing tersebut untuk bekerja di dalam negeri. Mengamati perkembangan yang terjadi sejak diberlakukannya kerja sama pasar bebas ASEAN (MEA), negara-negara berkembang yang tergabung dalam kawasan MEA kurang memberi batasan untuk dapat mengatur dan membatasi tenaga kerja asing yang datang bekerja di dalam negeri serta kurang memberi kelonggaran hak tenaga kerja lokal untuk bekerja di luar negri. Melihat keadaan tersebut membuat kita tersadar mengenai masih banyaknya tenaga kerja lokal yang mempunyai kompetensi diatas tenaga kerja asing yang dimasukkan pihak investor ke dalam negeri tapi tidak mendapat kesempatan yang layak untuk bekerja di wilayah kerjasama kawasan MEA. Fenomena itu membawa pemikiran bahwa dalam menghadapi era persaingan bebasnya tenaga kerja asing yang masuk akankah tenaga kerja lokal di Indonesia dapat mampu bertahan dengan adanya kebijakan tersebut. Permasalahan tersebut tentu dapat menambah daftar persoalaan dalam negeri perihal angka pengangguran yang setiap tahunnya belum dapat diminimalisir dengan berbagai penambahan sektor lapangan kerja baru. Mengamati berbagai fenomena perkembangan dunia kerja tersebut kompetensi bukan lagi suatu hal yang terlalu istimewa untuk dibanggakan tetapi merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi harus ada dalam pola pikir setiap calon tenaga kerja maupun para pegawai dan karyawan yang telah terserap dalam dunia kerja untuk sekiranya dituntut mampu memberikan andil yang kuat dan berpengaruh dalam pencapaian kinerja yang berkualitas kedepannya. Jika konsep knowledge management dapat diterapkan dalam pola pikir sistem kinerja tersebut kemungkinan harapan akan kompetensi yang berkualitas masih ada untuk dapat dipertahankan. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Cut Zurnali 2008 istilah knowledge management atau manajemen pengetahuan petama kali digunakan oleh Wig pada tahun 1986 saat menulis buku pertamanya dengan mengangkat topik Knowledge Management Foundation yang diterbitkan tahun 1993. Menurut Wig 1999 membangun manajemen pengetahuan adalah sistematis,eksplisit, dan disengaja. Pembaharuan dan penerapan pengetahuan untuk memaksimalkan efektivitas pengetahuan organisasi yang nantinya akan terbentuk menjadi aset pengetahuan organisasi yang bersifat timbal balik. Berdasarkan pemaparan tersebut manajemen pengetahuan bukan hanya terbatas pada seberapa maksimal terbentuknya pengetahuan baru sehingga terkumpulnya informasi organisasi yang pada akhirnya tersimpan dalam database tetapi yang utama adalah proses transfer pengetahuan yang dapat memberikan perubahan yang signifikan sebagai solusi dari berbagai permasalahan yang masih saja selalu membelit perkembangan suatu lembaga/organisasi maupun perusahaan. Pemahaman perbedaaan antara bentuk pengetahuan baru, informasi, dengan database menjadi kunci utama untuk memahami Manajemen Pengetahuan (MP). Transfer pengetahuan merupakan salah satu aspek manajemen pengetahuan yang bersifat timbal balik dalam pengelolaan aset pengetahuan organisasi. Sehingga dalam hal ini penerapan manajemen pengetahuan bukan hanya terbatas pada penciptaan, pengumpulan dan penyimpanan pengetahuan dan informasi dalam database tetapi harus sampai pada proses transfer ilmu informasi kepada para user stakeholder. Sampai saat ini konsep tersebut selalu mendapat perhatian yang luas dan dikaji lebih mendalam mengenai strategi mengubah informasi dan aset intelektual menjadi nilai bertahan suatu organisasi. Manajemen pengetahuan bukan merupakan hal yang lebih baik tapi lebih mentikberatkan pada bagaimana melakukan hal-hal yang lebih baik. Kegiatan manajemen pengetahuan (MP) biasanya dikaitkan dengan tujuan organisasi seperti bagaimana cara atau sistem untuk dapat mencapai tujuan organisasi yang lebih baik setiap tahunnya dengan peningkatan kinerja, keunggulan kompetitif ataupun tingkat yang lebih tinggi yaitu inovasi,  sehingga mampu mempertahankan keberadaan pentingnya organisasi tersebut untuk tetap berdiri. Perubahan dan perbaikan yang berkesinambungan secara sistematis dan terarah memberikan perkembangan yang tanpa disadari dapat membawa pemikiran kepada inovasi strategi kerja yang cerdas dan aplikatif. Keberadaan suatu organisasi dinilai dari seberapa peran penting organisasi tersebut untuk memberi dampak perubahan terhadap organisasi lain dan para pengguna produk layanan organisasi tersebut. Eksistensi organisasi dapat terukur dengan sistem penerapan Manajemen Pengetahuan yang dapat memberi manfaat sebagai sarana alat komunikasi staf dengan administrator, Standar Operasional Procedure (SOP) yang menjadi standar acuan baku dan menjadi alat pengawasan dalam proses bekerja sehingga dapat memaksimalkan kinerja yang efektif dan efisien dalam pencapaian kinerja yang berkualitas dan meminimalisir resiko pemborosan waktu dan anggaran. Badan Penelitian dan Pengembangan Prov.Sultra dalam hal ini sebagai organisasi yang mengusung tupoksi penelitian dan pengembangan sesuai dengan arah kebijakan pemerintah dalam Permendagri UU No.17 Tahun 2016 sebagai suatu organisasi yang mengedepankan penelitian,pengembangan dan penerapan IPTEK guna dilakukan inovasi di berbagai mata rantai pertambahan nilai produk/ jasa, serta inovasi dalam menyelesaikan berbagai masalah kekinian dan mengantisipasi masalah masa depan untuk kemajuan pembangunan bangsa. Salah satu faktor penting yang mendukung kemajuan pembangunan adalah pembangunan IPTEK dalam rangka mewujudkan daya saing. Sebagai bentuk eksistensi organisasi Badan Litbang Provinsi merupakan instansi yang berfokus pada pemecahan solusi atas isu dan topik permasalahan yang terjadi melalui kegiatan penelitian dan pengembangan dengan mengusung konsep “Rumah IPTEK” sebagai bentuk adaptasi konsep Knowledge Management. Konsep tersebut dibangun untuk suatu penguatan sistem organisasi lembaga sebagai perwujudan nilai eksistensi diri dan diharapkan berujung pada perubahan sistem yang mengarah pada peningkatan nilai mutu organisasi lembaga. Dengan memberikan ruang kepada berbagai instansi SKPD Provinsi/Kota/Kabupaten untuk berpartisipasi membawa berbagai isu/topik permasalahan yang menjadi konsentrasi pelaksanaan tujuan pokok dan fungsi di SKPD tersebut, yang selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Prov.Sultra dengan berbagai kegiatan penelitian, pengkajian, pengembangan, perekayasaan, penerapan, pengoperasian dan evaluasi kebijakan yang pada akhirnya memberikan kontribusi hasil kegiatan kelitbangan dalam bentuk rekomendasi ke berbagai SKPD yang bersangkutan. Penerapan sistem Knowledge Managament yang dilakukan oleh Balitbang Prov.Sultra ini merupakan sarana perwujudan revitalisasi lembaga sebagai suatu Badan yang diharapkan nantinya bukan hanya terbatas pada fungsi utamanya sebagaimana tertuang dalam Permendagri UU No.17 Tahun 2016 tapi dapat juga berfungsi sebagai suatu lembaga pendukung dan penunjang berbagai kegiatan pemerintahan lainnya melalui kegiatan fasilitasi, advokasi, asistensi, supervisi dan edukasi sehingga kedepannya diharapkan tidak hanya mampu menempati garda terdepan pemerintahan tetapi juga mampu mengiringi jalannya sistem pemerintahan dan dapat pula memberikan dukungan dalam pencapaian hasil akhir. Oleh karenanya itu penguatan sistem kelembagaan dengan mengambil konsep Knowledge Management mampu memberikan sinergi yang cukup kuat jika komponen utamanya yaitu people, knowledge dan processe dapat diarahkan dengan strategi yang handal untuk mencapai puncak kompetensi yang berkualitas dan berorientasi mutu.

-end-

cindy

 

2017-03-01
welcome medix